Sabtu, 18 Februari 2017

Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2017


“Membangun Keluarga Kristiani Berdasarkan Nilai Rumah Panjang yang Injili Menuju Keutuhan Ciptaan”


Saudari-saudara umat kristiani yang terkasih,
Pada tg. 1 Maret 2017 yang akan datang kita merayakan Hari Rabu Abu, tanda dimulainya masa prapaskah yang lebih sering dikenal dengan“masa puasa” selama 40 hari. Masa puasa adalah masa dimana kita, seluruh umat kristiani diberi kesempatan secara khusus untuk mengadakan permenungan, mawas diri, meninjau kembali hidup keagamaan kita, apakah sudah sesuai dengan apa yang kita imani. Masa puasa selalu diwarnai suasana matiraga, ulah tapa dan semangat doa sebagai ungkapan bahwa dihadapan Allah kita hanyalah debu, penuh dosa dan perlu melakukan pertobatan.

Masa puasa adalah masa dimana kita yang  dalam hidup keagamaan sudah menempuh jalan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, diajak untuk kembali/berbalik kejalan yang benar. Seperti yang disabdakan Tuhan: ”berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh”(Yoel.2, 12).

Seperti tahun yang sudah-sudah setiap tahun, dalam masa puasa gereja menentukan tema khusus yang diharapkan mendapat perhatian khusus tanpa mengenyampingkan tema-tema umum tentang pertobatan.

Tahun ini tema khusus yang berlaku untuk seluruh Keuskupan di Kalimantan adalah “Membangun Keluarga Kristiani berdasarkan nilai rumah panjang yang Injili menuju keutuhan ciptaan”.

Kenapa temanya berhubungan dengan keluarga?
Karena “Keluarga-keluarga sangat penting sebagai pusat suatu iman yang hidup, tempat pewartaan iman, pembinaan kebajikan dan kasih kristiani atau menjadi persekutuan pribadi-pribadi sebagai tanda dan citra persekutuan Allah Tritunggal”(Katekismus Gereja Katolik 1656,1666,2685,2205).

Keluarga adalah “gereja kecil” dengan anggotanya yang sedikit, bapa, ibu dan anak-anak. Walaupun kecil namun sangat menentukan “gereja besar”, Keluarga besar umat Allah secara khusus dan masyarakat luas pada umumnya. Keluarga yang sehat, penuh dengan kedamaian dan kasih, saling melayani, bersemangat pengorbanan, saling mengampuni dan berkeadilan, sangat berperan terhadap gereja dalam arti yang lebih luas, dan masyarakat dimana keluarga itu berada.

Tidak dapat disangkal bahwa banyak keluarga dewasa ini masih manghadapi banyak tantangan bahkan kesulitan yang seakan-akan tak ada jalan keluarnya.

Tantangan atau kesulitan tersebut  antara lain: adanya relasi dalam keluarga yang tidak harmonis, masalah yang berhubungan dengan kesetiaan dalam hidup perkawinan, beban ekonomi, lunturnya semangat pengorbanan, lingkungan pergaulan yang tidak sehat dll.
Sehubungan dengan lingkungan pergaulan yang tidak sehat ini dan yang akan menjadi beban bahkan penderitaan dalam keluarga, kami ingin menggaris bawahi akan adanya bahaya bahwa cukup banyak anggota-anggota keluarga kita, terutama anak-anak muda yang terlibat dalam obat-obat terlarang/narkoba, yang sampai saat ini pengaruhnya belum bisa dibendung.

Menghadapi tantangan tersebut, Keluarga Kudus dari Nazareth, Maria, Yosep dan Yesus harus menjadi teladan dan panutan setiap keluarga Katolik. Satuasinya dan zamannya memang jauh berbeda, tetapi kwalitas tantangan yang dihadapi tidak jauh berbeda.

Kesulitan-kesulitan tersebut dialami antara lain karena banyaknya nilai-nilai luhur yang seharusnya ada dalam keluarga, dewasa ini sudah  ditinggalkan karena pengaruh perkembangan di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan tehnology serta   globalisasi(hidup dalam persaingan) yang tidak terbendung.

Sangat memprihatinkan bahwa hubungan satu sama lain yang seharus nya di dasarkan pada cintakasih, sudah berubah menjadi hubungan yang didasarkan untung-rugi.

Kalau dalam tema APP(Aksi Puasa Pembangunan) tahun 2017 ini “nilai-nilai rumah panjang”(istilah lain yang dipakai adalah”rumah betang”) yang injili ditawarkan untuk menjadi salah satu dasar untuk membangun keluarga, tentu tidak dimaksudkan untuk mengkerdilkan nilai-nilai yang sudah ada dan kaya dalam Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Apalagi tidak dimaksudkan untuk menempatkan “rumah panjang” sebagai yang paling sempurna, seakan-akan mengenyampingkan bahwa dalam budaya-budaya lain yang beraneka ragam tidak ada nilai luhur yang universal yang bisa dijadikan acuan.

Rumah Panjang yang masih ada di beberapa tempat di Kalimantan Barat ini memancarkan banyak nilai-nilai yang sungguh bisa membantu dan menyadarkan kita bahwa kita manusia diciptakan Allah sesuai dengan “gambarNya”(Kej.1,26) sehingga pada diri setiap orang ada sifat Keallahan yang adalah”kasih”. Dalam setiap orang dan karya-karyanya ada nilai-nilai luhur yang memancarkan sifat Keallahan.

Dari sekian banyak nilai-nilai luhur yang ada dan mewarnai kehidupan di rumah panjang disini bisa kami sebut beberapa diantaranya, yaitu: semangat persaudaraan, gotong royong, berbela rasa, berkorban untuk kepentingan bersama, hidup takut akan Tuhan(Sang Penguasa Bumi), menempatkan kepentingan bersama diatas kepentingan  pribadi, keluarga dan kelompok. Tidak melanggar  kesepakatan yang telah dibuat bersama, sikap mau mengampuni serta kepedulian terhadap  alam sekitarnya.

Ketika semua warga menghormati, menghargai dan melaksanakan  nilai-nilai tersebut, maka warga yang diam di rumah panjang mengalami hidup yang penuh dengan kedamaian, aman, bahagia dan penuh sukacita. Bukankah nilai-nilai ini juga dibutuhkan dalam hidup berkeluarga dewasa ini.

Saudari-saudara yang terkasih dalam Kristus.
Masa puasa adalah masa dimana secara khusus kita meninjau kembali hubungan kita dengan Tuhan yang mulai renggang bahkan putus karena dosa-dosa kita. Mungkin jalan yang kita tempuh sudah menyimpang dari jalan yang dikehendaki Tuhan. Masa puasa adalah masa untuk bertobat, kesempatan untuk  kembali ke jalan yang benar.

Sambil kita berdoa bagi keluarga-keluarga yang manghadapi masalah dan dengan keyakinan bahwa tidak semua keluarga mengalaminya, marilah di  masa puasa ini kita jadikan kesempatan  untuk mawas diri, apakah kita ikut ambil peran sehingga terjadinya banyak tantangan bahkan kesulitan dalam hidup berkeluarga? Sebaliknya apa yang bisa kita lakukan agar kesulitan-kesulitan tersebut bisa dikurangi?

Sehubungan dengan kepedulian terhadap alam lingkungan, kami ingin mengingatkan bahwa rusaknya alam lingkungan mempunyai dampak yang tidak kecil pada kehidupan manusia. Oleh karena itu, sangat mendesak untuk meninjau kembali kebijakan kita terhadap alam-lingkungan/lingkungan hidup. Di daerah-daerah dimana lingkungan/alamnya masih luas, dalam mengelolanya hendaklah memperhatikan kepastian bahwa tidak akan membuat kehidupan umat manusia menjadi lebih berat bahkan menderita.  Di daerah-daerah perkotaan, sampah selalu menjadi masalah. Kita bisa ambil peran agar sampah-sampah yang ada tidak berdampak negatif bagi lingkungan. Semua dipanggil untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat. Di banyak sekolah Katolik sudah diusahakan agar lingkungannya menjadi hijau. Kiranya usaha ini masih bisa ditingkatkan lagi.

Marilah kita memasuki masa puasa ini dengan keyakinan bahwa Allah tetap mencintai dan tidak pernah meninggalkan kita umatNya, mahluk ciptaanNya.

“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau!”(Yes.49,15).

Beginilah firman Tuhan:”berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia”(Yoel.2,12-13).

SELAMAT MENJALANI MASA PUASA.
Pontianak, pada Hari Rabu Abu, 1 Maret 2017


Mgr. Agustinus Agus

Uskup Agung Pontianak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar